top of page

5 Life Lessons from My Journey of Loss and Waiting for Motherhood

Back to November 9th, 2018 - 7 years ago. The day I said good bye to my womb.

Rahim saya itu bak layu sebelum berkembang.

Belum berproduksi sudah KO duluan - but it's funny how my body taught me.

Saya sudah pernah mensharingkan proses pengambilan keputusan dan cerita histerektomi saya di tulisan-tulisan saya terdahulu (https://www.liabrasali.com/post/45-years-and-148-days-thank-you-for-the-good-time-uterus dan https://www.liabrasali.com/post/even-if-i-walk-through-the-shadow-of-the-death-be-grateful), kali ini setelah lebih dari 7 tahun dari cerita tersebut.

Saya ingin membagikan 5 hal yang diajarkan oleh rahim saya kepada kehidupan saya, as her legacy.

  1. A Woman’s Meaning Is Deeper Than Any Organ

    “The body expresses the person”

    (Theology of the Body, Audience of Feb 20, 1980)

    Saya belajar, melalui ilmu kedokteran dan pengalaman yang yang pelajari, bahwa panggilan seorang perempuan tidak hanya terletak pada gabungan organ demi organ tubuhnya. Yes the womb once expressed a capacity for biological motherhood, but it never defined the fullness of womanhood. Di beberapa pertemuan dengan berbagai orang muda, bahkan setelah Saya kehilangan rahim, mereka mengatakan menemukan impression motherly dalam diri Saya. Mungkin saja sihh... itu karena pengaruh usia. Tetapi itu mengingatkan saya bahwa The personal meaning of the feminine body remains intact, even when a reproductive organ is lost.

  2. The capasity of Self-Give remains completely Intact.

    We know that a central theme of Theolog of the Body is that human body is created to express self gift.

    “Man cannot fully find himself except through a sincere gift of self.”(Gaudium et Spes, 24; cited repeatedly in TOB)

    Setelah histerektomi (pengangkatan rahim), Saya mendapati bahwa kapasitas untuk memberikan diri tidak hilang. I still can giving my self, of course not because of my power. Only by the grace of God, but also because self-gift is rooted in the person, not in fertility. Biological motherhood is one form of fruitfulness, but not the only one nor the ultimate one. Dalam pengajarannya, St. John Paul II clearly distinguishes:

    • Biological fruitfulness: keberbuahan melalui anak biologis.

    • Personal and spiritual fruitfulness: keberbuahan melalui anak-anak spiritual.

Saya belajar dalam kasus Saya, mengharapkan biological fruit mengajarkan saya untuk terus berharap dan percaya. Tetapi dalam kelanjutannya, Saya belajar ada rahmat besar dibalik suffering dan unplanned things yang Tuhan berikan.

  1. Kehilangan tidak meniadakan Panggilan sebagai perempuan. Kehilangan bertransformasi menjadi keberbuahan Illahi.

Tidak ada penderitaan yang berlalu sia-sia saat kita menempatkannya dalam pengertian misteri penebusan Kristus. Dalam salah satu tulisannya, St. John Paul II menulis: “Suffering, more than anything else, makes present in the history of humanity the powers of the Redemption.”(Salvifici Doloris, 27)

Teringat ada masanya setelah Rahim saya diangkat, saya berduka dan merasa:

  • berduka karena saya merasa tidak subur (yang konfirm!).

  • jadi perempuan tapi kok organ keperempuanan cacat.

  • beneran saya ngga punya lagi naluri keibuan.

Tapi kemudian dalam perjalanannya. Melalui penyembuhan yang Tuhan berikan, kasih yang disalurkan melalui suami, keluarga, dan komunitas, saya diingatkan bahwa panggilan itu tidak hanya masalah identifikasi biologis semata, tetapi panggilang setiap orang untuk mencintai. Motherhood can be lived spiritually and relationally.

Hal ini juga membawa saya pada pengertian bahwa berbuah bukan hanya panggilan perempuan yang sudah menikah. Tetapi menjadi panggilan setiap perempuan melalui pangglannya untuk mencintai. We are bigger than our condition on earth, becayse God creted us as His image from the 1st place.

  1. Feminine Genius Is Bigger Than Biology

    Dalam Mulieris Dignitatem, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang martabat dan panggilan perempuan, yang diterbitkan pada 15 Agustus 1988, St. John Paul II memperkenalkan konsep feminine genius, yang berakar tidak hanya pada perempuan secara biologis, melainkan juga pada orientasi seorang perempuan sebagai pribadi.

    “Moral and spiritual strength of a woman comes from her awareness that God entrusts the human being to her in a special way.” (Mulieris Dignitatem, 30)

Setelah pengangkatan rahim saya, sebagai seorang perempuan yang disebut sebagai feminine genius, saya merefleksikan bahwa saya tetap hidup sepenuhnya dalam perhatian kepada sesama, dalam belas kasih dan kepedulian, dan dalam pendampingan, pelayanan, kepemimpinan, serta doa.

Rahim pernah memberikan ekspresi fisik bagi panggilan ini, tetapi setelah rahim diangkat, saya menyadari bahwa panggilan seorang perempuan melampaui ekspresi fisik ini.

  1. Saya dicintai bukan karena apa yang saya bisa lakukan tetapi just as I am as a woman.

    Setiap kali saya mengingat proses histerektomi dari awal terdiagnosa sampai pengambilan keputusan, saya mendapati bagaimana suami, orang tua, dan sahabat-sahabat saya mencintai saya sebahai seorang Lia. Bukan seseorang yang mandul dan gagal, tapi seseorang yang dicintai dan dihargai.

    Hal ini kembali merujuk kepada bagaimana cinta dan tubuh seharusnya dipandang pada awalnya. Tubuh menjadi identitas biologis, tetapi kehilangan bagian anggota tubuh bukan berarti kehilangan identitas kita. Fertility, motherhood, and bodily integrity are temporary signs, not ultimate meanings.

    What seems missing now will be fulfilled and transfigured in eternity.


Saya belajar banyak dari kehilangan.

Saya bersyukur atas apa yang ada dan diberikan dalam hidup saya.

But on this lent time, the mystery of Christ Himself, yang melalui TubuhNya yang terluka dimuliakan, Saya kembali merefleksikan kehilangan rahim saya.

Rahim yang seharusnya dimuliakan melalui keberbuahannya.

Tetapi dalam kasus Saya, tumor, luka, ketidaknormalan, yang membawa pada kehilangan rahim juga membawa Saya pada pemaknaan dan pengertian bagaimana TubuhNya yang terluka dimuliakan.


Buat teman-teman perempuan di luar sana, yang bergumul dengan situasi infertilitas, dan segala perasaan ketidak mampuan, longing for a child, dan perasaan tidak utuh, Saya mau berbagi sukacita ini:

Melalui penantian, Tuhan ingin membentuk diri kita menjadi seorang perempuan yang lebih bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih. Penantian membawa kita pada pembelajaran akan kerendahan hati, percaya tanpa bukti, memurnian keinginan hati, setia hari demi hari, membuka hati untuk panggilan yang lebih luas dari apa yang kita mengerti, dan pembelajaran nyata tentang salib Kristus.


Bersama pasanganmu, peluklah penantian dan lihatlah bagaimana penantian mengajarkan kita untuk:

  1. Bersandar bersama kepada Tuhan

  2. Bersatu, bukan menyalahkan

  3. Fokus dari hasil ke kesetiaan karena kesetiaan adalah buah yang sering tersembunyi, tetapi sangat berharga di mata Tuhan. Kesetiaan juga buah dari cinta.

  4. Membuka diri pada bentuk buah kasih yang lebih luas

  5. The ultimate is, penantian mengajarkan bagaimana cara mencintai (read; sacrifice) tanpa syarat

  6. Penantian menyatukan pasangan dengan salib dan pengharapan


Kalau saya bisa menulis ini, bukan dengan jalan yang rata, mudah, dan tidak berbartu.

Saya belajar banyak dari penantian, ketidak mampuan, kegagalan, dan pada akhirnya kehilangan.

Tetapi saya belajar bahwa Saya punya Tuhan yang besar, yang melebihi pikiran Saya.

Tuhan yang melalui kekuatan salibNya mengubah semua yang dunia pandang kegagalan, kutuk, ketidak mampuan, menjadi kekuatan besar untuk berbuah bagi Kerajaan Allah.

Buat sahabat perempuan di luar sana yang sedang dalam masa penantian, Tuhan yang sama akan memberikan sesuatu yang lebih besar dalam hidupmu.

Allah telah lebih dahulu setia kepada kita.

Tapi bila kita setia, ujilah Allah Tuhan kita, bagaimana Ia lebih setia dan memberikan sesuatu yang jauh lebih indah dari apa yang kita mampu pikirkan.




Comments


© 2020 by LiaBrasali.

bottom of page