Putus Cinta: When Love Was Never Really Love
- Lia Brasali Ariefano

- 4 days ago
- 4 min read
Updated: 3 days ago

Ada jenis kehilangan yang tidak datang dengan suara keras.
Tidak ada drama, tidak ada pengkhianatan besar.
Hanya satu kesadaran yang datang pelan, almost too quiet to be trusted:
I stayed, not because I loved him… but because I was afraid.
Sepuluh tahun.
Satu dekade yang terlihat seperti kesetiaan, tapi di dalamnya, ada kompromi kecil yang terus ditumpuk,
sampai akhirnya membentuk kebohongan yang rapi.
Saya bilang itu cinta. Saya pikir ini yang seharusnya saya lakukan karena saya mempercayai, yang pertama akan menjadi yang terakhir.
Padahal sebagian adalah kenyamanan.
Sebagian adalah status.
Sebagian lagi… fear of starting over.
Dan yang paling jujur: takut tidak ada lagi yang memilih saya, and I settled for what I could have at that time.
So I chose someone… before I could be left unchosen.
I know it was ironic.
Saya pikir saya sedang menjaga hati, padahal saya sedang menggadaikan kebenaran dan kebahagiaan saya.
Lalu setelah 9 tahun atas desakan Ibu saya, kami bertunangan.
Pertunangan itu seharusnya menjadi konfirmasi cinta.
Tapi justru di sana, everything got louder. Tapi melihat kebelakang, mungkin itu maksud Ibu saya mendorong kami untuk bertunangan.
Perbedaan yang dulu bisa di-ignore, suddenly became undeniable.
Nilai yang tidak sejalan, cara melihat hidup yang berbeda,
dan satu hal yang tidak bisa lagi ditutupi:
I realized that my heart was not there.
Bukan karena dia kurang. Hey he was smart, one of the heartthrob in high school when we met.
Bukan karena dia salah. I know he loved me and trying hard to work on us.
Tapi karena saya tidak jujur.
Dan jujur itu mahal.
Karena kejujuran memaksa kita kehilangan sesuatu yang sudah kita bangun lama.

After almost 1 year engagement, I broke up with him. Yes, that sum our 10 years of relatiosnship.
There goes my decade of age 15-25.
Ending it after 10 years sounds cruel.
But staying would have been a longer cruelty.
Ada orang-orang yang menikah bukan karena cinta, tapi karena terlalu jauh untuk mundur.
Dan mereka menghabiskan puluhan tahun trying to convince themselves they made the right choice.
Aku hampir jadi salah satu dari mereka.
So yes, it broke him.
And it broke me too, in a different way. The reality that I broke and hurt him, that was the hardest thing that I have to deal with.
But sometimes, breaking is the only honest thing left to do.
The blessing?
It didn’t look like one at that time.
Tidak ada perasaan lega di awal.
Hanya rasa bersalah, kehilangan, dan pertanyaan tanpa ujung.
But time has a strange way of revealing truth.
Pelan-pelan aku mengerti:
Lebih baik kehilangan seseorang yang tidak benar-benar kita cintai,
daripada kehilangan diri sendiri dalam hubungan yang terlihat “benar”.
Saya menyadari rasa cinta saya bukan cinta yang benar. Tapi cinta yang menggunakan dia untuk kepentingan saya.
So, this writing is for you who are dealing with this kinda doubt. To stay on the relationship or actually I have to be honest...
Don’t confuse comfort with love.
Nyaman itu penting, tapi cinta lebih dari sekadar tidak kesepian. That is using. Cinta is pure giving and sacrifice.
Fear is a terrible decision-maker.
Kalau kamu bertahan karena takut sendirian, kamu sedang membangun masa depan di atas kecemasan, bukan cinta. Cinta seharusnya membebaskan, bukan terbelenggu oleh ketakutan.
Time invested is not a reason to stay.
Dalam kasus saya, 10 tahun bukan alasan untuk lanjut.
Itu hanya bukti bahwa kamu butuh lebih banyak keberanian untuk jujur.
You can love someone and still choose to leave.
Atau seperti kasus saya, kamu bisa tidak benar-benar mencintai… dan baru sadar terlambat (Puji Tuhan seterlambat-terlambatnya, masih sebelum menikah).
Both require courage. But only one leads to truth.
Healing is not about forgetting.
It’s about understanding without punishing yourself forever.
Healing is about God's grace. So lean to God even stronger.
Hari ini, fast forward 28 years later, saya tidak melihat itu sebagai kegagalan.
Saya melihatnya sebagai penyelamatan. Manuver penyelamatan Tuhan yang bekerja dengan caraNya yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.
A rescue… from a life that looked right on the outside,
but felt empty on the inside.
And maybe that’s when broke up became a blessing in disguise:
Something that hurts enough to wake you up,
before you spend your whole life asleep.
Kalau kamu baca ini dan merasa “ini gue banget”… ya, hidup memang kadang butuh tamparan realitas level tinggi.
Setelah peristiwa ini, saya belum juga belajar. Yes, me and my sok pinta mode still on…
Masih banyak tamparan dan jatuh dari gedung tinggi yang membuat saya berantakan luluh lantah.
Tapi semuanya itu memperlihatkan saya secara nyata bagaimana God's grace and mercy worked through my stupidity aand arogancy.
Lebih baik bangun sekarang daripada hidup rapi tapi kosong sampai tua.
If you are now experiencing romance, the butterfly feeling that makes you flying high to the moon and back, be grateful for it.
Enjoy it with keeping it right and pure.
But many times romance is overrated.
Jujur itu jauh lebih menyelamatkan.
If you don't know how to be honest because fear overpowered in you, ask for God's grace, because I know He loves you so much that He want you to be happy. Staying in lies or living in the camouflage won’t make you happy.
But sometomes, our terms and understanding of happiness is different with God.
From what I experience, I was too stupid to think that I know myself, I know what was good for myself, and God has to follow me.
Today I testity, that through what I went through, I know what God set me free from the lies I created my self.
When love was never really love...
God wanted me to experience what love really is.
the 1st truth of love was and is God's love.
That is what we have to believe.
So, to all of you who are in doubt today,
my two cents:
Back to the original love we have. The source of true love and the one who could leads us to true happiness.
His name is Jesus!
LbA.



Comments