To All Single Ladies: Are You Prepared for the Man of God You Pray For?
- Lia Brasali Ariefano

- 5 days ago
- 4 min read
Updated: 4 days ago
Waktu saya SMP - saya pernah menulis sesuatu di diary soal doa saya tentang pasangan hidup.
Saya berdoa supaya punya suami yang kenal Tuhan. Takut akan Tuhan.
Saya ngga tahu doa-doa jomblo jaman sekarang. Pengen punya suami yang kayak apa.
Tetapi rasanya setiap perempuan pasti ingin punya suami yang hidup benar, dan dalam konteks kita yang beragama, lelaki yang sholeh dan menjalani perintah Tuhan rasanya akan menjadi lelaki yang lebih 'aman' untuk dinikahi.
Saya ngga bilang semua akan berjalan mulus tanpa halangan, rintangan, dan masalah. Tetapi lelaki yang punya pegangan iman menjadi bayangan yang lebih aman bagi seorang perempuan.
Dalam perjalanannya, masuk SMA, kuliah, menjalani masa teenager, dan kemudian masa pengenalan diri dengan berbagai kegagalan membuat saya mulai menurunkan standard saya.
Kehilangan harapan.
Mempertanyakan arti keberadaan saya di dunia ini.
Kemudian, saya melupakan doa dan harapan saya untuk punya suami yang takut akan Tuhan. Apalagi setelah saya mendapati bahwa lelaki yang saya dengar, lihat, dan pikir mencintai Tuhan pun, mampu melukai saya.
So what's the point?
Hari ini, 40 tahun setelah saya menuliskan doa soal pasangan hidup di diary saya, doa itu menjadi kenyataan.
I married a man that I can call a man of God (at least I know he keeps fighting for it everyday).
Semua terjadi tanpa saya sadar akan konsekwensinya.
Sampai satu saat saya berkata pada diri saya: "You really don't know what you were praying for huh...?"
Konsekwensi harus berbagi diri dengan Tuhan.
To feel that you're the second best.
Konskwensi ngga jadi bini yang kipas-kipas disetirin sopir, karena dia memilih untuk keluar dari kerjaan yang memaksa dia harus sign double book accounting padahal gaji dia dah 'lumayan'.
Konsekwensi ngga jadi bisa pergi keluar negeri seenak jidat (biarpunini ngga prinsip sihhh) karena dia resigned dari perusahaan yang membuat dia harus memilih: pekerjaaan atau pelayanan.
Yup, roller coaster happened because I was praying to have a husband who love God more than everything.
Tetapi hari ini saya melihat ke belakang dan tersenyum.
Betapa melalui semua peristiwa hidup, saat kita kembali kepada sosok yang menebus dosa, Ia membutikan tidak pernah gagal memberikan makna dari setiap peristiwa.
Kalaupun saya mengalami roller coaster ini, I feel that kinda roller coaster akan ada juga biarpun dengan situasi yang berbeda.
Setelah hampir 22 tahun pernikahan dengan pembuktian kesetiaan Tuhan yang ngga abal-abal, saya banyak merefleksikan bahwa yang terjadi hari ini memang jawaban akan apa yang kita projeksikan beeerrrtahun-tahun lalu.
n this context, it was the answer of my prayer back then,
So temen-teman single, Ladiessss, if I may giving you an advise for your future husband.
Pertama:
Start as early as you can be, praying to God, to guide you to find the husband that you want.

Terkadang ilmu 'ngeflow' terasa demikian realistis, tanpa kita sadari itu hanya satu cara untuk mengatakan:
we don't know what we want OR kita terlalu takut untuk punya kemauan ATAU (lagi) kita tidak percaya akan penyelenggaraan Tuhan.
Kedua:
Berdoa dan melibatkan Tuhan dalam proses besar perjalanan hidupmu, mulailah berupaya untuk mengenal dirimu lebih. Before we find Mr. Right, why don't we ask God's grace and train ourselves to be Ms. Right yang dipenuhi dengan cinta Tuhan sehingga kita mampu mencintai dengan arti yang sesungguhnya yang mampu memberi instead of using (read: mengambil). Be kind, have courage, full of compassion, developt the inner beauty within. Take care of your self, your heart and body. Practise patients and self control. Most of all choose Jesus in every way that you decide.
Ketiga:
Saat kamu mengembangkan dirimu, temui dan belajar dari banyak orang. Bersahabat sebanyak-banyaknya, don't be exclusive. Travel the world! Learn new culture! See the world dengan kekayaan ciptaan Tuhan melalui alam, suku bangsa, budaya, kebiasaan, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap perbedaan. Because God works through everuthing He has created.

So gals, after so many experience of failed relationship. wounds and regrets, baggage masa lalu yang saya bawa sampai hari ini. Doa untuk menemukan Men of God selalu ada dalam hati saya yang terdalam.
Setelah 10 years of relationshio - failed.
1 time engagement - failed.
2 other ex-es and some "TTM" - failed.
Long journey of waiting brought me to a man of God.
My (almost) 22 years hubby that God put beside me.
But then I know the worth of waiting and all the process that God let me through.
Through waiting, pain, uncertainty, and feeling of dark moments, God brought me to grow my faith in Him.
Hari ini saya memuji Tuhan untuk semua proses itu karena saya mengerti akhirnya maksud dari semua itu.
If you want a man of God to be your husband, first... you have to be a woman of God (in making) to be His wife, His ezer kenegdo, and His partner to live God's mission through your marriage.
I wrote this prayer, and I really hope that you find joy through waiting and hoping for the man God will send to you.
Marilah berdoa:
Tuhan yang Maha Kasih,aku datang kepada-Mu dengan kerinduan di hati untuk menemukan pasangan hidup yang Engkau sediakan. Bimbinglah aku, tunjukkanlah seperti apa pria yang sejalan dengan rencana-Mu bagi hidupku, agar kami dapat saling membangun dalam iman kepada Yesus.
Di tengah menunggu ini, ajarilah aku mengenal diri lebih dalam—kekuatan, kelemahan, dan panggilan yang Kau titipkan. Berikanlah kasih karunia-Mu agar aku menjadi Ms. Right: penuh kasih-Mu, murah hati, berani, dan penuh belas kasih. Bentuklah kecantikan batinku, ajari aku mencintai dengan memberi bukan mengambil, menjaga hati dan tubuhku dengan bijak, serta melatih kesabaran dan pengendalian diri.
Tuhan, kiranya aku memilih Yesus dalam setiap keputusan dan langkah, dan perlengkapan-Mu menyertai setiap usaha perubahan dalam hidupku. Bukakanlah kesempatan bagiku untuk bertemu banyak orang, menjalin persahabatan, belajar dari budaya dan ciptaan-Mu di seluruh dunia—supaya pandanganku meluas dan imanku bertumbuh melalui perbedaan yang Kau ciptakan.
Karuniakanlah hikmat untuk membedakan kapan melangkah dan kapan menunggu, serta damai dalam proses ini. Jadikanlah segala pengalaman dan hubungan yang kujalani sarana memuliakan nama-Mu dan mempersiapkan aku untuk hubungan yang sehat, beriman, dan penuh kasih sejati.
Bunda Maria, Engkaulah panutanku sebagai seorang perempuan. Engkau telau melakukan segaka kehendak Puteramu dengan sempurna, peganglah tanganku, berjalan bersamaku, temani aku dalam proses penantian dan pengambilan keputusan besar ini, doakanlah aku.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami
Amin..
LbA.



Comments